Dosa Terbesar Massimo Moratti

Saya terhenyak.

 

22 Mei 2010 tidak akan pernah menjadi hari yang saya lupakan seumur hidup. Ya. Seumur hidup. Malam minggu itu saya melihat sebelas pemain telah berjuang sekuat tenaga untuk membantu mewujudkan mimpi setiap Interista di dunia, menggapai titik tertinggi di langit Eropa.

 

Javier Zanetti menangis, Cambiasso dengan seragam nomor 3 yang didedikasikan untuk Facchetti berlarian penuh emosi ke setiap sisi lapangan. Samuel Eto’o duduk tersenyum bahagia di atas lapangan dengan bendera Kamerun di pundaknya. Ini final keduanya dan keduanya pula berhasil ia berikan trofi si kuping besar. Mourinho, sang protagonis dalam sebuah chapter Treble Winner ini hanya terdiam menahan tangis sambil memandangi puluh ribuan Interisti yang mengisi tribun Santiago Bernabeu. Barangkali, barangkali loh ya, disamping itu Mou sedang menghitung seberapa banyak Madridista yang akan mengisi tribun itu untuk mendukungnya di musim berikutnya.

 

Chapter Treble Winner ini memang mengesankan, jauh lebih mengesankan dari chapter berikutnya yang berisi tentang kesuksesan Inter meraih Piala Dunia Antar Klub yang sebenarnya terhitung biasa saja cenderung hambar karena Inter hanya mengalahkan beberapa klub semenjana dari benua lain yang levelnya sangat jauh di bawah Inter. Saking mengesankannya chapter ini, bahkan banyak Interista hingga detik ini yang masih membanggakan Treble Winner ini kepada setiap pendukung klub Serie-A lainnya:

 

“Kami satu-satunya klub di Italia yang mampu meraih Treble!”

 

“Kami satu dari delapan klub di dunia yang mampu meraih Treble!”

 

Oke, baiklah. Tim kita memang bermain baik saat itu hingga mampu meraih Treble Winners, tapi ingatkah kalian bahwa Treble hanyalah salah satu chapter dari sebuah buku tebal sejarah yang ditulis oleh Massimo Moratti?

 

Ya. Buku sejarah itu ditulis dengan penuh gairah dan cinta sejak 1995 hingga 2013. Jauh lebih lama dari J.K Rowling menulis Harry Potter dan George R.R. Martin menulis Game of Thrones.

 

Selama delapan belas tahun, delapan belas chapter pula telah ia tulis. 1,5 milyar US Dollar telah ia dedikasikan untuk buku ini. Ratusan karakter utama berlabel superstar telah ia munculkan, hingga akhirnya ia bunuh dengan sadis layaknya karakter pada Game of Thrones. Beragam cerita duka dan bahagia mampu ia kembangkan untuk para pembaca setianya.

 

Sebut saja chapter pembuka “Next Il Capitano” yang berisi munculnya tokoh muda berperawakan biasa saja dari klub bernama Banfield yang di kemudian hari menjadi tokoh utama dalam buku ini. Atau chapter “Iuliano’s Foul”, sebuah kisah duka penuh harap dan geram tentang kejahatan seorang sipir penjara bernama Iuliano kepada sang tokoh utama, Ronaldo. Kisah itu berakhir tak bahagia selayaknya kisah Cinderella yang dibawa kabur pangeran, karena penuh dengan ketidakadilan. Atau satu chapter pendek dengan kisah singkat tidak menyenangkan yang berujung pada kematian sang tokoh berambut putih bernama Gasperini.

 

Well, bagi saya chapter akhir buku ini tidak menyajikan sebuah kisah happy ending. Di pertengahan November 2013, Massimo Moratti menyerah. Ia merasa tidak sanggup lagi melanjutkan dan mencoba menggantungkan ceritanya kepada penulis berikutnya. Alhasil dibukalah sebuah audisi bagi para penulis yang ingin mencoba membuat buku ini kembali menjadi best seller.

 

Di sinilah dosa terbesar atas perjudian Moratti bermula. Bukan salahnya karena ia harus banyak membunuh karakter seperti Pirlo, dan Ronaldo dalam kisahnya. Tapi dosa terbesarnya adalah ketika ia menunjuk seorang penulis amatir yang sudah dan sedang mencoba peruntungannya dengan menulis beberapa buku berjudul Philadelphia 76ers dan DC United, tapi sepertinya akan berakhir dengan kegagalan.

 

Penulis tersebut bernama Erick Thohir.

 

Seperti yang kalian ketahui, beliau bersama dua temannya asisten penulis lainnya dengan membentuk konsorsium, membeli lisensi dan hak cipta dari buku sejarah hebat itu sebesar 300 juta poundsterling setelah Moratti merasa tidak sanggup untuk melanjutkan kisahnya. Sayangnya, karena Erick, sang penulis berikutnya, belum sempat membaca buku sebelumnya yang ditulis oleh Moratti, ia pun gelagapan hingga akhirnya memutuskan untuk menulis buku baru dengan warna dan judul yang sama.

 

Pernahkah Anda membayangkan Andrea Hirata untuk melanjutkan menulis kisah Harry Potter setelah membunuh Voldemort? Atau seorang Tere Liye mencoba melanjutkan kisah The Lord of The Rings? Oh tidak tidak. Saya tidak mau Frodo Baggins akan menjadi tokoh yang menye-menye.

 

Erick tidak salah, toh ia sudah coba membaca sedikit-sedikit buku dari Moratti tersebut dengan membolak-balik secara cepat pada chapter yang membuatnya tertarik. Chapter itu berisi tokoh bernama Nicola Ventola. Ventola adalah pemuda dengan talenta menjanjikan dengan istri yang memiliki darah keturunan kebangsaan yang kurang lebih sama seperti Erick. Sayangnya, saking terburu-burunya Erick membaca chapter itu, ia tidak membaca lanjutannya bahwa di kisah berikutnya Ventola adalah tokoh penyakitan dan penuh dengan inkonsistensi.

 

“Siapa pemain favorit Anda, Mr. Thohir?”

 

Pertanyaan tersebut nyerocos begitu saja dari seorang wartawan Italia sesaat setelah Erick mengakuisisi lisensi dan hak cipta dari buku Massimo Moratti.

 

“Nicola Ventola”, jawabnya mantap.

 

Sesaat wartawan itu terdiam. Bingung. Ia lalu bertanya balik alasannya.

 

“Siapa pun boleh mengidolakan Karl-Heinz Rummenigge tapi saya menyukai pemain lain dan itu tanda saya mengenal tokoh-tokoh lama dalam buku ini.”

 

Mantap nggak tuh?

 

Abaikan pertanyaan tadi, Erick pun mencoba menulis kisah lanjutan dari buku Massimo Moratti dengan format baru. Tidak tanggung-tanggung, Erick pun berusaha menggaet beberapa nama terpandang untuk menjadi editornya, sebut saja Michael Bolingbroke dan Marco Fassone. Dua nama editor yang mampu menelurkan beberapa karya best seller.

 

Akan tetapi bukan pada editor, kualitas penulislah senjata utamanya. Kemampuan Erick dalam menghadirkan beberapa tokoh utama dalam kisah memang tak sedalam dan setajam Moratti. Sebut saja tokoh seperti Belfodil, Montoya, M’Vila, Shaqiri dan Kondogbia dibandingkan dengan Adriano, Vieri, Ibrahimovic, Maicon, dan Cambiasso. Ya jelas beda jauh. Erick pernah memunculkan karakter potensial bernama Mateo Kovacic, namun kemudian harus ia bunuh karena kebingungan dengan plot ceritanya. Sekarang ia hanya punya tokoh utama bernama Mauro Icardi, yang itupun hasil dari tokoh ciptaan Moratti di akhir bukunya.

 

Erick pun tertekan oleh para pembaca setia, penjualan bukunya tidak sebagus era Moratti. Ia pun berusaha mencari jalan tengah dengan penulis freelance yang bersedia melanjutkan cerita bukunya, namun dengan syarat namanya harus tetap tertulis sebagai penulis utama di sampul bukunya.

Beruntung Erick menemukannya. Penulis tersebut asal negeri Tiongkok. Pekerja keras, adaptif, fast learner, dan sepertinya memiliki masa depan cerah. Kini Erick pun bisa sedikit bersantai dari tekanan media asing sambil mencoba menyelesaikan menulis buku-buku lamanya dan buku barunya yang berjudul “Asian Games 2018”.

 

Namanya wartawan iseng, di tengah-tengah ia fokus pada buku barunya, eh malah bertanya soal buku lamanya yang sudah coba ia lupakan.

 

“Bapak masih nulis buku Inter itu, Pak?”

 

“Ya masih, tentu saja.”

 

“Sejak kapan Bapak mulai menyukai kisah-kisah berjudul Internazionale Milan itu, Pak?”

 

“Ohh itu sih sejak munculnya tiga karakter utama yang dijuluki Trio Belanda dong”.

 

Rupanya Erick khilaf, alih-alih mencoba membaca lagi buku tebal dengan kisah berwarna biru-hitam, Erick malah tertukar dengan kisah stensilan dari Majalah Misteri lawas di awal 90-an milik supirnya.

 

Oh Massimo Moratti, inilah dosa terbesarmu.

 

Artikel ini tayang di www.calciobuzz.com pada tanggal 7 September 2017

Leave a Reply