7 Alasan Inter Akan Juara Musim Ini

Halo kalian para Interisti sehat?

 

Jelas sehat dong. Sejauh ini dalam empat giornata, Inter berhasil ada di posisi ketiga klasemen di bawah Napoli dan Juventus dengan poin yang sama, hanya kalah selisih gol. Inter juga berhasil mencetak 10 gol, dan hanya kebobolan satu gol, paling sedikit di antara klub Serie A lainnya.

 

Jelas ini akan menimbulkan situasi harap-harap cemas, apakah klub kesayangan kita di akhir musim akan menjadi juara? Ataukah kita akan menjadi pesakitan lagi dengan terdampar di papan tengah klasemen? Namun mengingat kita adalah salah satu fans paling sabar di jagat sepak bola bersama Kopites dan The Gooners, jadi lebih baik harapannya disimpan terlebih dahulu. Saya tentu tahu rasanya ketika kita diberi harapan untuk pacaran bertahun-tahun dengan seseorang, namun di ujung jalan malah menikah dengan yang lain. Ya, mental kita baja, kepala kita memang batu.

 

Optimis memang, tapi menurut saya, Inter musim ini akan jauh berbeda dibandingkan tujuh musim sebelumnya. Mengapa? Karena saya memiliki beberapa analisis mengapa Inter akan juara musim ini.

 

  1. VAR adalah Sahabat Inter

Susah untuk dipungkiri, salah satu faktor Inter susah bersaing di liga adalah perihal keputusan wasit. Banyak statement yang menyatakan Juventus selalu diuntungkan dengan keputusan wasit sementara Inter sebaliknya. Sebut saja kejadian musim 1997/1998 dimana Ronaldo dihajar Mark Iuliano di kotak penalti dan tidak berbuah tendangan 12 pas, sehingga Inter kalah 0-1 dan Juventus pun scudetto. Atau ketika gol Sulley Muntari dianulir di musim 2011/2012, padahal jelas di video rekaman pertandingan bola sudah melewati garis gawang sebelum ditinju keluar oleh Buffon. Juventus pun scudetto.

Untungnya, di musim 2017/2018, Serie A mulai menerapkan Video Assistant Referee (VAR) sebagai pembantu wasit di tiap pertandingan. Fungsi dari VAR sendiri adalah untuk meninjau keputusan wasit kepala dengan melihat rekaman video instan. Bayangkan, keputusan terjadinya gol dan prosesnya, pemberian tendangan penalti, pemberian kartu kuning dan merah, semua dapat ditinjau ulang langsung selama pertandingan. Dampak dari VAR sendiri pun mulai terasa pada Juventus di dua pertandingan ketika melawan Cagliari dan Genoa, mereka menderita 2 penalti –yang satu gagal berbuah gol sementara yang satu lagi gol. Sementara Inter mendapatkan 1 hadiah penalti yang berbuah gol setelah 5 menit konsultasi bersama VAR ketika melawan SPAL. Hal ini di musim-musim yang lalu merupakan kemustahilan untuk Inter, ketika tanpa VAR, Inter mungkin baru dapat hadiah penalti setelah giornata 20-an.

 

  1. Bersama Spalletti, Jantung Kita Akan Lebih Sehat

Di musim-musim sebelumnya, darah Anda mungkin terbiasa terpompa dengan deras ke seluruh tubuh ketika Inter mulai bertanding. Skenarionya kurang lebih sama: Gol-gol yang dicetak oleh Icardi, terbayar lunas dengan aksi konyol di lini belakang pada menit-menit akhir. 3 poin pun melayang seiring peluit akhir pertandingan. Rambut-rambut rontok, piring dan gelas pecah berserakan, napas naik-turun, kadang panas-dingin, intinya tidak sehat-lah. Bersyukurlah kalian wahai Interisti garis tua, bersama Spalletti, Anda tidak perlu sering-sering klaim BPJS untuk cek tensi darah, minta surat ijin sakit ke dokter ketika hari senin karena malu di-bully teman sekantor, atau membuat banyak alasan seperti:

“Yang penting kami pernah treble winner!”

“Kami tidak pernah turun ke Serie-B”

“Yang penting presiden kami orang Malaysia! Eh, maksud kami, Indonesia!”

Tidak. Tidak perlu lagi. Apa yang Spalletti berikan ke kita, juga ke tim, adalah sebuah kestabilan. Pekerjaan yang Spalletti tunjukkan musim lalu bersama AS Roma adalah jaminan mutu dari CV seorang pelatih pekerja keras merangkap psikolog, merangkap motivator, dan komunikator. Ketika berbicara eksternal kepada pers, Spalletti akan menyampaikan apa yang ada dalam tim secara jelas dan lugas, tanpa bertele-tele. Ketika berbicara pada timnya, ia akan menyempatkan diri untuk mengobrol secara empat mata tentang kekurangan yang harus diperbaiki. Apabila masih ngeyel dan ndablek juga, ia tak akan segan untuk mencadangkan pemain tersebut hingga sadar. Ingat apa yang terjadi pada Totti di musim terakhirnya? Seperti itulah Spalletti. Ingat posisi klasemen Roma musim kemarin? Seperti itu jugalah Spalletti. Demi menjaga kestabilan timnya, ia tidak akan pernah peduli dengan komentar orang yang tidak sejalan dengan dirinya dan timnya.

 

  1. Superisic

Sejauh ini kesuksesan Inter di mercato bukan diukur dari keberhasilan mendatangkan Dimaria, Schick, Keita, Moura, Sanchez, Berardi, Bernardeschi, Salah, Atep, atau Zulham Zamrun, namun ketika berhasil mempertahankan Ivan Perisic. Iya Perisic, yang hanya dihargai 48 juta paun oleh klub Manchester sialan itu. Cobalah tengok musim yang sedang berjalan ini. Ivan Perisic dalam 4 match sudah berkontribusi 3 gol dan 3 assist. Itu berarti 60% dari total gol Inter saat ini adalah kontribusi dari hanya seorang Ivan Perisic. Coba sebutkan pemain Manchester United mana yang bisa berkontribusi semasif itu? Mkhitaryan? Lukaku? Pogba? Meh. Pemain EPL memang selalu overrated.

 

Oke maaf, saya sering emosi jika membahas klub EPL. Kembali lagi ke Perisic. Ya, Ivan Perisic memang super. Ketika Icardi mulai buntu di kotak penalti, ia akan muncul menyisir dari sisi kiri kemudian ke tengah dan boom! Maka terjadilah gol atau assist. Bersama Icardi, ia telah menjelma menjadi partner ideal setelah era Icardi – Kovacic dan Icardi – Palacio. Hanya pelatih Jerman gila yang tega untuk mencadangkan Perisic dari menit pertama untuk seorang Eder. Oh iya, ini maksudnya buatmu, Frank De Boer.

 

  1. Sang Regista

Seumur saya menikmati Inter bertanding, menurut saya Inter tidak pernah benar-benar memiliki sosok seorang regista. Di negara yang kerap memuja sosok fantasista seperti Totti dan Del Piero, atau attacante seperti Ronaldo dan Vieri, atau juga trequartista seperti Kaka dan Veron, regista adalah sosok yang cukup langka. Jauh dari glamornya selebritis lapangan hijau yang kerap memukau lewat aksi-aksi skillful di lapangan, peran regista adalah peran sutradara dari balik layar. Layaknya Pirlo dan Veratti, Inter akhirnya menemukan sosok ini pada diri Borja Valero.

 

Ketenangan, visi, dan kemampuannya dalam mengalirkan bola, membuat Inter kepincut untuk mendatangkan Valero dari Fiorentina meskipun usianya tidak lagi muda. Rupanya manajemen Inter cukup terbawa romansa Juventus ketika berhasil mendatangkan Pirlo dari Milan. Borja Valero, meski tidak seflamboyan Pirlo, ia memiliki kematangan yang cukup untuk menjadi jenderal di lini tengah. Kedatangan seorang Valero bahkan membuat Spalletti yakin jika ia tidak membutuhkan sosok gelandang pengangkut air seperti Medel atau Kondogbia. Sudah cukup Inter berjudi dengan Banega di musim lalu. Kini bersama Valero, Inter siap menjajah setiap jengkal lini tengah tim lawan manapun.

 

  1. Tiga Lapis Tembok Baja

Milan Skriniar memang fenomenal. Ketika Inter mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Sampdoria sebesar 30 juta euro untuk mengangkut Skriniar, saya bertepuk tangan. Di mata saya, Skriniar memiliki kelebihan yang tidak dimiliki pasangan duet Miranda sebelumnya, Ranocchia – Juan Jesus – Andreolli – Murillo – Medel. Dengan tinggi 187 cm, Skriniar kuat di duel udara, sekuat Ranocchia dan Andreolli. Memiliki bobot seberat 80 kg membuat Skriniar tidak takut untuk body charge dengan penyerang manapun seperti Medel. Kemampuannya untuk mendribble bola bahkan jauh lebih bagus dari Juan Jesus. Aerial tackle-nya pun bersih dan tidak sesembrono Jeison Murillo. Short pass-nya secara statistik bahkan lebih baik dibandingkan dengan kompatriotnya, Miranda. Insting mencetak gol-nya? Mammamia! Di MSK Zilina selama 93 pertandingan, ia melesakkan 13 gol. Di Inter, hanya dalam dua pertandingan terakhir, Skriniar berhasil menggetarkan mistar gawang dan mencetak satu gol. Intinya dengan segala kelebihannya, Skriniar adalah bek masa depan Inter, jika tidak dijual ke Real Madrid, PSG atau Barcelona tentunya.

 

Miranda, kapten timnas Brasil, merupakan sosok mentor yang sangat ideal untuk Skriniar sebelum kemampuannya habis digerogoti usia. Ketenangan, kemampuan membaca arah serangan lawan, serta leadership secara mudah ditularkan kepada Skriniar. Kali ini Miranda tidak perlu khawatir, Skriniar mempunyai spesifikasi prosesor dan RAM yang lebih tinggi dibandingkan Ranocchia, Juan Jesus, Medel, dan Murillo.

 

Di belakang mereka berdua, Samir Wakabayashi pun bisa lebih santai di bawah mistar gawang. Tidak perlu banyak mengumpat, melompat, apalagi melakukan banyak penyelamatan sesering musim lalu. Trio Skriniar – Miranda – Wakabayashi ini sudah teruji paten dalam empat pertandingan terakhir dengan mencatatkan rekor 3 kali cleansheet dan hanya kebobolan satu gol.

 

  1. Tiga Super Sub

Para Interisti garis tua nan keras mungkin ingat jika Inter pada medio 2003-2009 pernah punya sosok super sub fenomenal pada diri Julio Cruz. Bayangkan ketika pada masa itu lini depan Inter disesaki striker sekelas Vieri, Adriano, Ibrahimovic, Recoba, Crespo, dan Martins, tapi Julio Cruz masih setia bertahan di bangku cadangan. Anda tahu kenapa? Sudah menjadi pakem pelatih saat itu ketika Inter mulai buntu, masukkan saja Cruz, niscaya beliau akan mendedikasikan gol yang berujung pada kemenangan Inter.

 

Inter pun musim ini akan memiliki tiga super sub dalam diri Joao Mario, Eder dan Padelli. Mengapa? Pertama, Joao Mario mungkin akan lebih sering diplot sebagai trequartista di belakang Icardi, namun kemampuan Joao Mario dalam menghasilkan assist dan gol sejak musim lalu selalu lebih banyak ketika ia masuk ke lapangan dari bangku cadangan. Mungkin beliau lebih nyaman memperhatikan situasi pergerakan tim dari bench sisi lapangan, kemudian menyimpulkan solusi, lalu ketika ia masuk hanya tinggal mempraktekkan apa yang ada di lapangan. Kedua, idem dengan Eder, sejak musim lalu– Anda juga bisa membuktikannya di tim nasional Italia– Eder akan lebih berguna ketika dimasukkan di menit-menit kritis. Banyak gol penting yang akan ia hasilkan musim ini.

 

Ketiga Padelli. Mengapa Padelli? Itu semata karena Handanovic memiliki pengganti yang sepadan dalam diri Daniel Padelli. Sebelum kedatangan Joe Hart, Padelli adalah penjaga gawang utama di Torino. Sedikitnya Padelli mencatatkan 33 kali bermain di tiap musim dengan rataan menit sekitar 3000an. Pada musim 2013-2014, Padelli selalu bermain di setiap pertandingan yang Torino jalani hingga berujung pada kualifikasi Europa League. Penampilan apiknya di musim itu seolah terbayarkan ketika ia mendapatkan anugerah penghargaan Goalkeeping Revelation of The Season dari Italian Sport Awards pada tahun 2014. Bergabungnya dia ke Inter seolah menjadi reuni musim 2011-2012, dimana ia juga menjadi penjaga gawang cadangan dari Handanovic di Udinese.

 

  1. Skuad Yang Ramping

Dengan hanya bermain di 2 kompetisi lokal, membuat manajemen membentuk skuad Inter musim ini dengan sangat ramping. Dalam formasi kesukaan Spalletti, 4-2-3-1 di hampir setiap posisi, skuad ini memiliki sedikitnya 2 pemain untuk bergantian menjadi starter dan pemain pengganti. Untuk lebih jelasnya Anda dapat melihat skema formasi ini.

 

Pemain yang bertanda biru, Anda akan sering melihat mereka mengisi starting line-up sepanjang musim ini. Pemain yang bertanda hitam, adalah pemain yang akan secara bergantian mengisi line-up ketika pemain bertanda biru sedang kelelahan atau performanya sedang angin-anginan. Sementara pemain bertanda oranye, adalah pemain yang bisa saja mengisi posisi tersebut, utamanya ketika Mister Spalletti sedang frustasi atau kondisi benar-benar darurat.

 

Dengan skuad ramping yang hanya berisikan 23 pemain ini, dipastikan tidak akan ada lagi pemain yang ngambek dan frustasi seperti Jovetic, Kondogbia atau Gabi-seret-gol. Pemain Primavera seperti Vanheusden, Valietti dan Pinamonti punya kesempatan untuk mencari pengalaman dalam pergantian dengan seniornya. Dua pemain senior cadangan dengan status Lord seperti Ranocchia punya waktu yang cukup untuk membalas haters di kolom komentar akun media sosialnya, dan Lord Nagatomo, tidak akan seperti musim lalu dimana ia terlalu sering bermain sebagai inti, musim ini beliau akan lebih fleksibel mengatur jadwalnya dalam mengisi organ tunggal keliling kampung.

 

Jika semua bisa bermain, semua akan senang. Jika para pemain senang, tidak akan ada friksi. Jika tidak ada friksi, suasana internal klub akan positif. Jika suasana internal klub positif, saya rasa pelatih akan dengan mudah mengatur fokus skuadnya dalam mencapai target musim ini, yaitu lolos ke Liga Champions.

 

Loh, kok cuma lolos Liga Champions? Bukannya di judul tulisan ini “Alasan Inter Akan Juara Musim Ini”? Dari sederet alasan yang diungkapkan di atas, harusnya cukup dong buat bikin Inter juara musim ini?

 

Iya betul Mas, juara, tapi juara dua atau tiga di bawah Napoli atau Juventus.

 

Wah sialan lu, dasar PHP!

 

Maaf mas, tapi saya kan daritadi cuma bahas skuad Inter, tidak membahas kedalaman skuad Juventus atau padunya chemistry skuad Napoli yang sudah bertahun-tahun main bareng.

 

Lagipula ya mas, kalaupun maksud saya Inter akan juara satu, alih-alih menulis kata “juara” di judul, saya akan menggantinya sebagai kata Scudetto. Tapi sayangnya, sepertinya kita juga harus puas dan bersyukur jika bisa finish di posisi dua atau tiga akhir musim ini. Skuad ini menurut prediksi saya akan menjadi sebuah pemuas dahaga yang tidak pernah kita rasakan selama tujuh musim ke belakang.

 

Jangan serius-serius mas. Berdoa mulai!

 

Artikel ini tayang di www.calciobuzz.com pada tanggal 19 September 2017

Leave a Reply