“A Journey to Discover Our Passion”

Gedung Serba Guna Institut Teknologi Bandung, 17 April 2009.

 

Sejenak tatapan saya terdiam, terpaku pada sebuah karya ilustrasi tiga dimensi asli buatan tangan seorang mahasiswa Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung bernama Faikar Izzani yang berjudul “Selamat Makan!”. Ilustrasi tersebut dibuat seolah menyerupai tenderloin steak lengkap dengan sayuran layaknya wortel, kentang dan buncis. Padahal sebenarnya tidak, “steak” yang ada di hadapan saya terbuat dari kertas sampul berwarna coklat, akan tetapi di dalamnya dilapisi lagi oleh kertas karton, lalu sayur-sayurannya merupakan kombinasi dari kertas asturo dan origami paper. Hmm… unik dan nampak lezat, karena sebenarnya ketika dari jarak sepuluh meter, piring tersebut seolah berisi steak dengan daging sapi asli. Setelah cukup puas mencerna satu bentuk visual, lalu tatapan saya beralih ke arah panel di sebelah kanan yang menggantung karya dari Kintan Hapsari, sebuah pigura yang menyejajarkan ilustrasi tangan dengan empat style yang berbeda. Tampak seorang putri cantik dalam balutan busana yang dibuat oleh beberapa tarikan dari pensil, drawing pen, pensil warna dan cat air, yang tentu saja dihasilkan dengan ketekunan luar biasa dari pembuatnya.

 

Saya kemudian melihat ke sekeliling lagi. Takjub. Karya mahasiswa di sini begitu terkemas secara rapi, seolah-olah dahulu, sebelum ada pameran ini, semua karya dan tuannya telah mengetahui bahwa kelak suatu saat mereka akan ditampilkan dalam sebuah pameran yang akan disaksikan oleh banyak pengunjung untuk kemudian dinikmati dan dikagumi. Maka kemudian “mereka” ada di pagelaran visual yang begitu memanjakan mata dan otak para insan kreatif sebagai pengunjung yang membutuhkan berbagai inspirasi sebagai makanan bergizi sehari-hari.

 

Dada saya pun seketika sesak. Merasa iri atas apa yang ada di sekeliling saya.

 

Terlebih bukan hanya karena ini adalah pameran DKV ITB, tapi juga karena saya hanyalah seorang mahasiswa tingkat pertama biasa-biasa saja di DKV ITENAS yang mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa kelak karya saya hanya dipamerkan nanti setelah Tugas Akhir saya benar-benar berakhir. Berarti masih tiga tahun lagi. Cih!

 

Saya membayangkan, seandainya benda mati benar bisa mengungkapkan ekspresi, pasti karya-karya para mahasiswa DKV ITB tengah tertawa gembira ketika dijaga dengan baik, selalu mengenyahkan mereka dari para debu yang akan membuat tubuh mereka menjadi kusam, hingga tak bosan menunggu saat mereka dipamerkan benar-benar tiba. Sementara di sisi yang berbeda, terdapat karya mahasiswa DKV ITENAS sedang menangis, terselimuti oleh debu dan dibiarkan beberapa bagian tubuhnya patah karena para tuannya tidak tahu lagi seperti apa memperlakukan karya ketika sudah tidak terpakai lagi (menurut mereka). Padahal secara objektif, karya-karya tersebut sebenarnya tidak kalah “ganteng dan cantik” dibandingkan karya-karya para tuan kampus sebelah.

 

Diam-diam saya berjanji dalam hati, ahh… suatu hari nanti kami pun pasti akan mengadakan pameran karya seperti ini tanpa harus menunggu Tugas Akhir. Tanpa intervensi dari pihak manapun dan murni hanya inisiatif dari kami sendiri. Ya, ini sebuah impian, sebuah ambisi, dan sebuah tujuan yang harus direalisasikan. Entah kapanpun itu yang penting pasti terealisasi.

 

Saya diam, merekam semua momen dan wajah di sekitar saya. Tersenyum. Suatu saat merekalah nanti yang datang ke pameran kami, bukan kami yang selalu datang ke pameran mereka.

 

 

Basement Gedung 19, Institut Teknologi Nasional, 20 Maret 2012.

 

Hati saya bergetar ketika Rektor ITENAS, Dr. Imam Asychuri, Ir., MT. mulai merobek kertas di pintu masuk sebagai simbolisasi diresmikannya sebuah pameran karya di gedung ini.

 

Eighxhibition namanya. Eksibisi karya desain mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Nasional angkatan 2008 yang mencakup seluruh tugas dan karya pribadi selama delapan semester, dengan total kurang lebih 300 karya dari jumlah total 75 mahasiswa aktif secara akademis. Sebuah hajatan besar hasil inisiasi dan kontribusi menyeluruh dari satu angkatan. Sebuah forum silaturahmi untuk menyamakan visi dan misi, mendekatkan jarak antara golongan satu dengan yang lain. Dan sebuah persembahan dari kami yang sangat menghargai hasil kerja keras terhadap bidang yang kami cintai.

 

Saya bangga. Saya bangga. Sekali lagi saya bangga, dapat menjadi bagian dari sebuah sejarah, gebrakan, dan perubahan ini. Meskipun pameran ini terkesan sangat “angkatan-sentris”, akan tetapi setidaknya dapat memberikan inspirasi untuk adanya pergerakan dan perubahan dalam tubuh DKV ITENAS. Bagaimana tidak? Sejujurnya secara pribadi saya iri dengan mahasiswa dari kampus lain yang dapat dengan bangga mempublikasikan karyanya, bercerita tentang bagaimana proses dan kerja keras mereka dalam mengadakan suatu pameran yang menurut mereka luar biasa. Atau secara internal, saya bosan dengan sebuah organisasi yang disebut dengan “himpunan”, atau beberapa selentingan, “atuh euy, angkatan maneh mah teu pernah memberikan kontribusi buat himpunan.” Atau mungkin acara mahasiswa desain harus berupa acara hura-hura yang dipaksakan hasil dari intimidasi dan intervensi.

 

Melintas dalam benak, sebuah peristiwa di bulan Oktober 2011, ketika seseorang datang menghampiri saya, “Ton, ngumpulin karya yuk. Kita mau bikin pameran karya se-angkatan.” Sayapun terdiam. Selain mencoba mencerna kalimat tersebut dengan cukup jelas, hati saya pun bimbang, antara antusias karena akhirnya ada yang mencetuskan ide ini dan di sisi lain hati yang skeptis, karena biasanya hal seperti ini hanya akan terhenti sampai sebatas wacana. Sekedar informasi, sejak zaman tingkat awal pun telah banyak inisiatif semacam ini, tapi ketika dalam pelaksanaannya urung terwujud.

 

Kehadiran seseorang yang ternyata Rendra Jatnika pada waktu itu terasa seperti memantik kembali api semangat di dalam dada saya yang sempat padam. Ya. Mengingatkan kembali pada janji yang dulu pernah saya ucap tiga tahun yang lalu. Mengingatkan kembali betapa pentingnya acara ini diadakan, bukan sekedar prestise, bukan sekedar gaya-gayaan, bukan sekedar hiburan. Mengingatkan kembali bahwa kita pada dasarnya mempunyai potensi besar yang mubazir apabila tidak terpublikasikan. Mengingatkan kembali bahwa kita perlu sebuah ajang silaturahmi, mendekatkan kembali yang jauh, mengintimkan kembali yang dekat.

 

Manusia memang hanya berkehendak, tapi segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa izin Tuhan Yang Maha Kuasa, tentunya dengan diiringi kerja keras dari hamba-Nya. Satu yang pasti, seorang pria tidak akan membiarkan dirinya menjadi pecundang dengan mengingkari janji yang ia buat sendiri. Maka pertemuan dengan Rendra di siang itu saya anggap sebagai titik balik dalam merealisasikan semua janji, mewujudkan mimpi.

 

Sejak hari itu, kami dalam satu angkatanpun bekerja keras tiap detik ke menit, menit ke jam, jam ke hari, hari ke bulan. Tentunya persiapan pun tidak selamanya mulus, begitu banyak (baca: sangat banyak) hambatan yang kami terima. Susunan panitia yang kerap berubah-ubah, pengkolektifan karya yang tersendat-sendat, perolehan dana dari pihak sponsor utama yang cenderung telat (H-9 kami baru memperoleh kepastian dana, itupun termasuk pas-pasan), penekanan anggaran seminim mungkin, hingga perubahan konten dan pengisi acara, yang berakibat pula pada tiga kali pengunduran jadwal acara. Maklum, kami sangat minim pengalaman dalam mengorganisasikan sebuah hajatan yang cukup besar seperti ini. Terlebih karena melibatkan pihak sponsor, yang harus mempertimbangkan citra baik dan kurang baik ketika turut berjalan berdampingan bersama acara ini.

 

Tapi kami selalu tahu, apalah artinya sebuah hasil luar biasa tanpa kehadiran sebuah proses hebat  di baliknya. Sederhananya, proses persiapan adalah tempat dimana kami belajar, mengerti, dan memahami. Sementara keberhasilan adalah imbalan setimpal atas sebuah kerja keras dalam proses. Proses adalah sebab, begitu juga keberhasilan adalah akibat. Banyak kepala dalam berpikir, banyak tangan dalam bekerja, bukan berarti kami tidak fokus dalam mempersiapkan semuanya. Justru karena visi dan misi kami telah tertuju pada satu titik, maka segala hambatan pun bisa kami selesaikan bersama-sama.

 

“A Journey to Discover Our Passion” tagline acara kami, terasa pas mewakili segala proses persiapan acara, selain memang dimaksudkan untuk mewakili proses kami dalam mencari passion masing-masing dalam kurun waktu empat tahun. Empat tahun luar biasa yang jika digoreskan di atas kertas, akan menjadi tetralogi buku yang masing-masing terdiri dari ratusan bab dan kisah penuh warna, penuh suka duka, dan penuh realita. Sulit rasanya untuk tidak tersenyum riang atau tersenyum kecut ketika setiap dari diri kami memanggil ulang memori empat tahun ke belakang. Memori yang bukan hanya sekedar persoalan akademik seputar dunia perkuliahan, tapi tentang pencarian jati diri, pertemanan, persahabatan dan mungkin percintaan. Saya lalu membayangkan seandainya ketika salah satu dari kami melihat karyanya terpajang, ia bisa bercerita proses dibalik karya tersebut, “eh, dulu saya bikin karya ini pas waktu diputusin pacar pertama, makanya di sisi sebelah sini ada bercak darah dikit, hasil motong karton yang ga baleg gara-gara galau, jadi aja jarinya keiris dikit. Hehe…” atau mungkin “dulu saya mah ngerjain tugas ini sambil ditemenin poto-poto dosen yang cantik itu, makanya hasilnya jadi keren pisan. Hahaha…”atau “ini mah hasil proyekan saya, ga banyak duitnya, tapi habis itu diajakin keliling Eropa selama seminggu. Lumayan laahh…”

 

Dan acara inipun terhelat dalam kurun waktu empat hari sebagai representasi dari empat tahun ke belakang. Diisi oleh berbagai konten acara, buah dari kontribusi satu angkatan, dikunjungi oleh lebih dari lima ratus pengunjung dari berbagai kalangan, berbagai disiplin ilmu, dan berbagai ekspektasi. Mungkin tidak bisa memuaskan seluruh individu yang berkontribusi dalam acara ini, tapi kami selalu yakin dan percaya, inilah hasil terbaik yang mampu kami persembahkan bersama-sama. Akhir kata, Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih banyak untuk berbagai pihak yang turut mendukung keberlangsungan Eightxhibition sebagai acara eksibisi desain yang inspiratif dan komunikatif.

 

 

 

Ini merupakan titik awal, bukan titik akhir perjalanan, karena sesungguhnya perjalanan yang baik ketika Anda tidak melihat tujuan akhir yang sempurna, tapi menikmati setiap proses baik dan buruk dalam setiap perjalanan Anda. Manusia pada dasarnya telah memiliki jalan yang telah digariskan oleh Sang Maha Petunjuk, tergantung manusia tersebut mau tetap jalan, berhenti, atau mundur untuk memilih jalan lain. Hei kawan, sekali lagi, tidak selamanya gagal itu buruk, sukses itu baik, selama kamu masih punya mimpi untuk diraih kejarlah terus mimpi itu. Karena pada dasarnya orang yang paling miskin di dunia adalah mereka yang tidak mempunyai mimpi sama sekaliDan orang yang paling kaya di dunia adalah mereka yang punya banyak mimpi, lalu berusaha mengejarnya untuk kemudian diwujudkan dalam kehidupan nyata. 🙂

Leave a Reply