“Ya, Saya Memang Cuma Seperti Ini Adanya…”

Jam di desktop PC kesayangan saya sudah menunjuk angka dua puluh tiga lebih sepuluh menit ketika perut saya mulai meraung-raung sebagai tanda protes lapar. Satu hal yang wajar, mengingat jam-jam seperti inilah saat ketika lapar selalu melanda, bisa jadi mungkin ini dampak terlalu sering mengerjakan tugas hingga larut malam. Tanpa tedeng aling-aling, saya pun bergegas keluar kosan untuk mencari tukang nasi goreng yang biasa menjajakan dagangannya di seputaran daerah jalan Cipunagara, Bandung. Baiknya, penantian saya pun tidak bertahan lama. Sejenak berjalan kaki melewati aspal yang becek karena hujan, tukang nasi goreng yang telah didambakan kehadirannya oleh perut saya berlalu dengan dentingan khas sendok yang beradu dengan wajan, penanda ia sedang berkeliling dengan gerobaknya.

 

“Pak, nasi gorengnya satu yah, bungkus, ngga pedes.”

 

“Oh siap dek, sebentar ya.”, jawab si bapak dengan logat ngapak khas jawa pesisir yang kental.

 

Sambil menunggu bapak tukang nasi goreng itu memasak pesanan saya, seperti biasa saya mulai mencari obrolan pencair suasana. Niatnya sih basa-basi, tapi entah kenapa obrolan ini begitu mengalir.

 

“Jualannya biasa dari jam berapa sampai jam berapa, Pak?”

 

“Yaah, biasanya sih dari sekitar jam sembilan sampai jam tiga subuh. Tapi tergantung juga dek, kalau misalnya sebelum itu dagangan saya sudah habis ya saya pulang. Kan ini mah bukan ngantor. Hehehe.”

 

“Wah, biasanya semalam keliling gini dapat berapa duit sih, Pak?” Sayapun mulai tergelitik iseng menanyakan hal yang sebenarnya tidak pantas dan layak untuk saya ketahui.

 

“Alhamdulillah dek, kadang tiga puluh ribu, kadang juga enam puluh ribu, tergantung lakunya.”

 

Si Bapak tersenyum. Akan tetapi di sudut sunggingan senyum itu hati saya sebenarnya miris. Bagaimana bisa nasi goreng yang dijual seharga delapan ribu rupiah, setiap malam hari mendorong gerobak sejauh belasan kilometer, tapi keuntungan yang didapat hanya berkisar tiga puluh ribuan. Mungkin habis untuk modal, begitu pikir saya.

 

“Adek kuliah? Di mana? Udah semester berapa?”, Pertanyaan itu pun membuyarkan lamunan.

 

“Iya, di ITENAS bapak, Alhamdulillah sekarang udah mau masuk semester tujuh.”

 

“Oh ya? Hampir sama seperti anak saya atuh ya.”

 

“Wah, anak bapak kuliah? Kuliah dimana, Pak?”, Pertanyaan yang didasari sebuah respon takjub dan nada agak kurang ajar ini tanpa sadar terlontar dari mulut saya.

 

“Kuliah di ITB, sekarang lagi magang di PT. PINDAD. Itu tuh yang biasanya bikin peralatan senjata dek.”

 

Belum sempat saya menjawab, si bapak pun buru-buru menambahi,

 

“Yahh ga apa-apa lah dek, bapaknya memang cuma hidup dan bisa membiayai anaknya lewat jualan nasi goreng. Keadaan hidup saya memang begini, lahir di Indramayu dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan bikin saya hijrah ke Bandung, berkeluarga di sini, punya anak tiga, Alhamdulillah masih bisa sekolah semua…”

 

“Dulu saya sempat ganti-ganti pekerjaan, jadi tukang bangunan lah, tukang kebun lah, apa aja dek, pokoknya mah yang penting kerjaannya halal. Keluarga saya juga nantinya makan-makanan yang halal kan? mudah-mudahan ini bisa jadi barokah. Mungkin bapaknya cuma bisa jualan nasi goreng, tapi anaknya ga boleh seperti saya, dia harus jauh, jauh, jauh melebihi saya. Apapun itu, yang penting dia selalu ingat orang tuanya yang selalu bekerja keras bikin dia jadi seperti sekarang.”

 

Si bapak tersenyum lagi.

 

Saya sudah tidak mampu berkata-kata lagi, sudah cukup rasanya. Di otak saya berputar kalkulasi pendapatan seorang tukang nasi goreng dalam sebulan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan pangan sehari-hari, biaya sekolah, sandang, listrik, air, kontrak rumah dan mungkin segala kebutuhan sekunder lainnya. Tiba-tiba di hadapan saya yang tadinya seorang tukang nasi goreng yang sering saya remehkan keberadaannya, berubah menadi sesosok bapak yang selalu bekerja keras tiap malam, bijaksana, serta selalu menjadi pahlawan bagi keluarganya.

 

 

 

Jujur, sebelum ini saya pernah beberapa kali berbincang-bincang dengan beberapa orang yang selalu bekerja serius pada profesinya. Sebut saja penjual bubur ayam, pemulung sampah, penjual pecel lele, satpam komplek, penjual pulsa dan hampir mayoritas bukannya merasa malu ataupun menyesal, mereka justru bangga dengan pekerjaan yang mereka geluti. Apapun hasilnya, ketika itu didasari oleh niat baik yang tulus, pastilah itu yang terbaik buat mereka. Luar biasa.

 

Saya jadi teringat cerita dari ibu saya tentang seorang ibu penjual jamu di Jember, Jawa Timur (kota kelahiran saya) yang bisa menyekolahkan ketiga anaknya hingga menjadi sarjana hanya dari hasil berjualan jamu keliling. Hebatnya lagi, sampai sekarang ia masih berjualan dengan tampilan sederhana layaknya penjual jamu biasa, berkebaya, memikul botol-botol jamu hasil ramuannya sendiri, dan berjalan kaki hingga puluhan kilometer berkeliling kota. Saya lalu membayangkan apa yang dipikul si ibu penjual jamu itu mungkin sebenarnya bukanlah botol-botol jamu, melainkan beban untuk menghidupi keluarganya sehari-hari yang mungkin ketika pendapatannya dihitung secara matematis, tentu saja tidak memungkinkan. Tapi itulah, ketika kita berusaha keras tanpa mengeluh, percayalah, Tuhan selalu punya cara sendiri untuk menolong hamba-Nya.

 

Ya. Mungkin selama ini kita sering menemukan dan meremehkan profesi-profesi “kecil” di sekitar kita. Tapi sadarkah ketika kita benar-benar menghargai apapun pekerjaan kita yang mungkin di mata orang lain itu tampak kecil, tapi akan menjadi hasil yang besar ketika kita benar-benar bersungguh-sungguh mengerjakannya. Sering pula saya mendapati orang-orang yang mengeluh, “Ah, kerjaan gue di kantor mah gini-gini aja, mana dapet untungnya?”. Saya cuma bisa tersenyum. Ya, setiap orang tentu saja berhak untuk mengeluh atas apa yang tidak didapatkannya, tetapi akan lebih baik ketika keluhan itu dikonversi menjadi sebuah pekerjaan yang nyata. Bekerja sungguh-sungguh yang akan mampu merubah nasibnya menjadi lebih baik dibandingkan saat ini. Seorang Steve Jobs muda pun tidak mungkin bisa menghasilkan berbagai penemuan spektakuler di bidang teknologi seandainya dia hanya duduk diam di belakang meja kamarnya, merenungi nasib, dan berharap uang tiba dengan sendirinya. Atau mungkin seorang Sir Isaac Newton juga tidak mungkin dikenang dengan hukum gravitasinya seandainya ketika kepalanya kejatuhan apel, ia malah memakannya dengan lahap, bukan mencari penyebab kenapa apel tersebut jatuh ke bawah, bukannya ke atas dengan menjauhi bumi.

 

“Dek, ini nasi gorengnya. Delapan ribu rupiah ya.”, Ujar si bapak membuyarkan lamunan saya.

 

Saya pun menyerahkan uang seraya mengucapkan terima kasih dan tersenyum. Berharap bapak tukang nasi goreng yang saya kagumi tersebut mendapat rezeki berlebih malam ini.

 

Dengan senang hati karena sebungkus nasi goreng sudah di tangan, saya pun kembali ke kamar kos untuk memenuhi keinginan biologis perut yang masih meraung-raung kelaparan.

 

Sesaat ketika melihat bapak tersebut berlalu, saya pun tersadar, tanggal di kalender menunjukkan angka sembilan belas di bulan juni. Itu berarti hari ini adalah Hari Ayah Sedunia.

 

 

“Ah, Tuhan memang selalu punya berbagai cara untuk menegur hamba-Nya ya.”

 

Beranikah untuk menghargai setiap pekerjaan Anda atau orang lain apapun hasilnya mulai detik ini?

Leave a Reply