Sirup, Kue Salju, dan Nostalgia Sekolah Dasar

Saya jadi ingat tepat seminggu (lebih sehari) yang lalu, ketika sahabat-sahabat saya dulu sewaktu SD main ke rumah lagi. Malam itu ramai sekali, bahkan saya pun tidak menyangka akan seramai ini sejak Akbar Muhammad Saptapamungkas (salah satu sahabat SD saya, -red) menulis di dinding Facebook saya untuk mengajak reunian, tapi di rumah saya. Hehehe ya, rumah saya! Saya juga bingung kenapa, mereka masih ingat saja rumah saya di mana, sementara saya tidak pernah bertemu dan main dengan mereka lagi sejak lulus SD. Yaahh… mungkin sekitar 9 atau 10 tahun lah. Hehe… mungkin juga mereka memilih rumah saya sebagai tempat reunian karena dulu, rumah saya sering dijadikan base camp, tempat berkumpulnya anak-anak bolang, yang tidak tahu mau main kemana setelah berkeringat pulang sekolah naik sepeda hahahaha… selain itu mungkin karena kebetulan saya lagi pulang ke Jember. 🙂

 

Singkat cerita, malam itupun sahabat-sahabat saya mulai bertamu. Dimulai dari Eko Guruh, yang terakhir kali saya temui sepuluh tahun yang lalu masih kurus dan pendek, sekarang badannya nampak berisi dan tinggi. Lalu kemudian tiba berturut-turut ada Chandra, Yuyuk, Akbar, Athar, Rendra, Armando, dan Caesar. Luar biasa. Awalnya dalam perkiraan saya yang akan datang mungkin sekitar dua sampai tiga orang, dan malam itu sahabat-sahabat saya berkumpul hingga delapan orang. Sungguh terharu saya melihat mereka masih ingat dan hafal segala sesuatu dengan saya.

 

Percakapan yang awalnya kaku karena sudah lama tidak bertemu, kemudian cair seiring dengan candaan-candaan ringan yang terlontar secara tidak sengaja dari mulut kami. Banyak yang menanyakan kabar, kuliah dimana, kok sekarang baru muncul, dll.

 

“Kemana aja ton, ga pernah ada kabar, ini sekalinya muncul malah di facebook…”

 

hehehe.. iya, saya sudah hampir tiga tahun punya akun di situs jejaring sosial tersebut, tapi baru sekitar dua atau tiga minggu yang lalu kepikiran buat nge-add teman-teman SD saya. Sebenarnya sih, diawali dari celetukan saya di twitter sewaktu bulan puasa, “Temen kantor udah, temen kuliah udah, temen SMP- SMA juga udah, tinggal temen SD sama TK nih yang belum ngajakin buka bareng :p”. Eh, tidak disangka ada teman SD dulu yang pernah satu SMP-SMA nge-reply tweet iseng saya, “lo aja kali yang ga pernah ngumpul, kita mah tiap taun emang ngumpul”. Hahahaha… dari situlah saya mulai kepikiran untuk mulai “menjalin tali silaturahmi” lagi dengan mereka lewat group Facebook. 🙂

 

“Kok sekarang logatmu beda ya ton…?” hehehe… satu lagi teman saya nyeletuk.

 

Sebenarnya permasalahan logat ini sudah sering saya alami dalam “dunia pergaulan” saya sehari-hari, begitu mereka tahu asal saya dari mana. Baiklah, saya adalah mempunyai darah Jawa-Madura dari orang tua saya, Ayah saya dari Blitar, Jawa Timur, sedangkan ibu saya berasal dari Madura, (Jawa Timur juga :p). Lahir di kota Jember yang mayoritas penduduknya orang jawa, dan minoritas orang madura. Jadi kekhasan bahasa jawa di Jember dibandingkan kota-kota lain di Jawa Timur adalah bahasa jawa kasar, disertai dengan logat madura.

 

Lahir di lingkungan yang memiliki kultur bahasa seperti itu tidak lantas membuat penggunaan bahasa sehari-hari di dalam rumah keluarga kami menjadi bahasa jawamadura juga. Kami sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia kok. Terkecuali mungkin kedua orang tua saya yang kadang bercakap dengan menggunakan bahasa jawa (tapi bukan jawamadura).

Lalu ketika saya mulai beranjak menapak ke bangku sekolah, saya mulai menemukan teman-teman sebaya saya yang mau tidak mau untuk bergaul dengan mereka, saya mulai berbicara dengan bahasa jawa dan logat madura. Hehehe… tapi dengan catatan saya hanya menggunakan logat & bahasa ini di lingkungan sekolah saja. Tidak di dalam rumah. 🙂

 

Sebenarnya hanya sampai bangku sekolah dasar saja saya menggunakan bahasa ini, karena ketika di SMP – SMA, saya mulai memasuki lingkungan yang multi kultural. Sekedar informasi, saya sejak lulus SD mulai meninggalkan rumah (bisa dibilang merantau) untuk menuntul ilmu di Pondok Pesantren Al-Zaytun, yang saat ini sedang digembar-gemborkan sesat. Terserah anda punya pandangan apa terhadap almamater saya, yang jelas saya sangat mencintai almamater saya, dan TIDAK PERNAH merasa ada penyimpangan agama di dalam sekolah saya. 😀 Saya merasa beruntung merasakan atmosfer yang belum tentu, anak seusia saya bisa merasakan lingkungan selayaknya hidup di Nusantara sesungguhnya. Hehehe.. saya bertemu dan bersahabat dengan teman-teman dari ujung Aceh sampai dengan ujung Papua, berkenalan dan bercengkrama dengan teman-teman dari Malaysia, Singapura, hingga Afrika Selatan. Lingkungan yang multi kultural secara tidak langsung mampu mengubah cara pandang saya terhadap berperilaku dan beradaptasi secara dewasa. Saya mulai belajar untuk memakai bahasa Indonesia secara baik dan benar, memahami bahasa daerah orang lain secara acak, dan bagaimana memperlakukan teman yang berbeda-beda kepribadian karena pengaruh asal tinggalnya. 🙂

 

Sejak itupun saya tidak terlalu medok-medok amat dalam berbicara, termasuk ketika saya kuliah di Bandung. Saya juga belajar bahasa sunda dan logat sunda, sunda kasar tentunya, hehehe… Karena menurut saya cara terbaik untuk bisa adaptif pada lingkungan yang berbeda-beda adalah dengan masuk dan berbaur di lingkungan itu sendiri. Anggaplah diri kita adalah salah satu bagian dari mereka, bukan orang yang baru belajar, bukan pula orang yang sekedar numpang tinggal di wilayah yang beda budaya.

 

“Oohh, maneh teh ti jawa nya? Sugan urang maneh asli Bandung…” (oohh, kamu emang asalnya dari jawa yah? Kirain saya kamu asli Bandung…) terkadang seperti itu kata teman kuliah saya. Di satu sisi saya senang karena dianggap menjadi bagian dari mereka, di satu sisi saya sedih karena saya tidak berusaha menampilkan bahwa saya memang orang jawa. 🙂

 

Lalu hingga saya mulai magang di Jakarta pun teman-teman kantor saya banyak yang menanyakan, “Eh, elo emang dari Jember ya? Kok ga ada medok-medok Suroboyonya?”, maklum, mayoritas teman kantor saya juga orang Surabaya. Jadi akan sangat aneh jika saya yang ternyata orang jawa, tidak ikut-ikutan medok. Hehehe… jadi sebenarnya pertanyaan “Kok lo ga kayak orang jawa sih? Ga ada medok-medoknya?” atau “kok lo ga ngomong bahasa jawa? Kan lo dari jawa?” itu sudah sangat lumrah dalam keseharian hidup saya. Terkadang ketika malas, saya hanya menjawabnya dengan “Iya, kan gue dari lulus SD udah ga di rumah lagi…” sebenarnya jawaban yang salah, karena kemudian mereka akan bertanya dengan sekitar sepuluh pertanyaan lanjutan tentang kehidupan saya semenjak lulus SD. Hehehe….

BUZZZ…

 

Lamunan saya kemudian buyar lagi oleh pernyataan teman saya,

 

“Eh, maya sekarang cantik loh…”, GLEK! Saya pun buru-buru menghabiskan isi toples kue kering yang ada di atas meja. Entah nyindir atau gimana, Maya itu nama panggilan kecengan saya pas masih SD, nama lengkapnya sih A******* N**** D********. Tapiii lebih tepatnya kecengan yang ga pernah kesampaian, hehehe… maklum, dia sudah ada yang punya. Dan lagi dulu di SD saya orangnya pemalu :p (jangan ketawa!). Sontak yang lainpun mengiyakan dan mengamini, pandangan pun tertuju kepada saya. Betapa malunya, sepuluh tahun tidak bertemu tapi mereka masih ingat siapa kecengan saya, dapet dan jadian sih mending, nah ini? Boro-boro… berani ngobrol sama dia saja dulu ga pernah berani. Huahahahaha… dan lagi mereka semua ingat, duh, berasa satu sekolah yang tahu, ini mah rahasia umum namanya. Hahahaha… lalu saya pun dengan sok cool dan tampang tiis(dingin- bahasa sunda, -red) menjawab, “Oh ya? Emang kuliah dimana dia sekarang…?” (hoek,) lalu semuanya mulai jawab “… di Kedokteran Unej sekarang ton, emang masih mau..?” HUAHAHAHAHA… sialan lu nyet, kurang ajar juga nih jawaban. Udah ah, berhubung saya mulai agak mual membahas soal percintaan monyet ini, jadi skip aja. :p

 

“Masih inget ga dulu kita pernah nae sepeda sampe ke Mal Galaxy ton..?” Whoaa, pertanyaan ini membuat saya terenyuh mengingat dulu saya sewaktu SD memang sering ngebolang kemana-mana, makanya kulitnya jadi item (bohong). Saya sebenarnya dulu anak yang cengeng, tapi termasuk berani untuk pergi kemana-mana sendirian, ataupun sama teman, tanpa ditemani orang tua. Di SD dulu pernah pulang sekolah jalan kaki, sendirian, sering juga mengendarai sepeda. Terus pulangnya entah kemana, yang jelas, sore hari baru pulang. Pernah juga ke Malang, rumah eyang saya, naik kereta api ekonomi sendiri. Ke stasiunnya sih dianterin sama Mama, tapi menuju ke sananya sendiri. Bahkan di Malang pun, di minggu pagi (dengan merelakan tidak nonton Doraemon) saya pernah jalan sendirian dari rumah eyang menuju alun-alun malang. Saya juga bingung tahu dari mana saya jalan pergi dan pulang, tapi secara alam bawah sadar saya anak yang suka jalan-jalan liar. Hehehe… lalu dulu di SD juga sering pergi jalan kaki ke Gramedia sendirian, cuma untuk baca komik gratis. Tidak habis pikir, di umur sekarang saja saya jalan kaki kesana udah bikin megap-megap plus keringetan, berasa pengen dikasih napas buatan sama Ghisel Idol.

 

Kemudian Mal Galaxy ya, sebenarnya bukan Mal sih, mungkin sejenis tempat hiburan yang disertai dengan kebun binatang mini. Ada tempat untuk berbelanjanya dan banyak orang singgah untuk piknik di sana. Letaknya saya lupa, yang jelas di luar kota dan jauuhhh sekali. Seingat saya sewaktu minggu pagi dengan bersepeda, saya mulai diajak berpetualang menuju ke sana untuk melihat binatang-binatang aneh. Maklum, dulu di kota saya memang jarang ada tempat hiburan, hehehe… bersepeda saja dulu memakan waktu sekitar tiga jam, kebayang kan jauhnya seperti apa? Lalu ketika sampai di sana saya hanya sekedar melihat-lihat binatang yang katanya aneh, makan bekal, lalu pulang ke rumah dengan membeli satu kotak permen coklat bernama “Ichiban” seharga lima ribu rupiah buat oleh-oleh, hehehe… Pulangnya pasti selalu ditanya, dari mana saja, kok kulitnya makin menghitam, hehehe.. Saya tidak habis pikir, kok orang tua saya dulu tidak terlalu khawatir melepas anak cengeng seperti saya untuk keliling “jalan-jalan liar” tanpa mempedulikan situasi dan dampak yang terjadi pada tubuh saya. 🙂

 

Banyak cerita dan kenangan masa-masa sekolah dasar yang mengalir di percakapan kami malam itu, meskipun terkadang saya roaming karena banyak yang lupa, tapi tetap tidak mengurangi rasa hormat saya kepada sahabat-sahabat yang telah rela meluangkan waktu untuk berkumpul bersama lagi. Mengalunkan lagu lama, memberikan kehangatan atas sebuah kenangan, serta berbagi cerita untuk sebuah kesuksesan di masa depan. Amin. Akhir kata, maafkan saya sahabat-sahabatku, saya hanya bisa menyajikan sirup mardjan bikinan sendiri yang saya sendiri tidak tahu rasanya bagaimana serta beberapa toples kue kering edisi lebaran. Hehehe… terima kasih sahabat, semoga kita bertemu lagi di lain kesempatan. 🙂

Leave a Reply