Existence & Resistance

Prihatin. Itulah satu kata yang saya kira tepat untuk mewakili kondisi sosial yang terjadi pada masyarakat pada umumnya, bukan karena sekedar ikut-ikutan menggunakan–sebuah kata populer yang biasa diucapkan pimpinan tertinggi republik ini tanpa ada tindakan yang pasti– , tapi karena kata ini menyangkut fenomena sosial di seluruh belahan dunia tapi belum tentu menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Mengapa? Tentu saja karena ini diciptakan untuk membentuk sebuah lingkaran dinamis yang membuat kita terlibat di dalamnya, menikmati, tapi tanpa tersadar semakin kita coba keluar, akan semakin terjebak pula dalam lingkaran yang semakin lama semakin membesar tanpa kita ketahui dimana titik batasnya.

Bingung? Mari kita telaah secara perlahan-lahan.

Identitas & Kebudayaan

Manusia, sebagai makhluk hidup dengan tingkat intelejensia yang paling tinggi dibandingkan dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya telah mengenal identitas diri sejak berjuta-juta tahun yang lalu. Secara konsep keagamaan yang universal, kita mengenalnya dengan sebutan Adam. Mengapa Adam? Dengan adanya nama tersebut berarti secara eksplisit telah terbentuk identitas untuk membedakan antara makhluk yang satu dengan yang lainnya. Identitas yang masih bersifat personal, hingga akhirnya lambat laun berkembang menjadi sebuah komunitas.

Komunitas inilah yang kemudian dibentuk oleh individu-individu yang memiliki kesamaan idealisme dalam memandang hidup dari sudut pandang masing-masing, akan tetapi tetap satu tujuan. Semakin berkembang komunitas, semakin berkembang pula pola pikirnya, akhirnya mereka menciptakan sebuah kebiasaan yang selalu berkembang dan mendarah daging hingga kemudian disebut dengan “budaya”.

Budaya selalu identik dengan suatu komunitas tertentu. Karena tentu saja budaya berasal dari kebiasaan, akal, dan budi luhur yang mencirikan sebuah komunitas. Karena budaya antar komunitas satu dengan yang lainnya bisa saja berbeda, bisa saja sama.

Kita bisa melihat sejak zaman dahulu kala hingga kini, banyak budaya-budaya besar lahir dari komunitas-komunitas besar di penjuru dunia, beda periode, namun dasarnya tetap sama, dihasilkan dari komunitas yang berisi individu yang memiliki intelejensia tinggi pada masanya.

Sebut saja bangsa Babilonia di Irak, yang beribu tahun sebelum Copernicus, telah mengetahui bahwa bumi berbentuk bulat, memiliki poros dan mengitari matahari. Itulah kenapa ilmu astrologi mereka sangat maju. Lalu ada Suku Aztec di wilayah Amerika tengah, yang kini bernama Meksiko. Salah satu kaum paling brutal sepanjang sejarah karena terkenal dengan kanibalismenya. Mereka melakukan ribuan pengorbanan menggunakan manusia tiap tahunnya. Korban biasanya dicabut jantungnya yang masih dalam keadaan berdetak selagi hidup, lalu tubuhnya dijadikan masakan untuk dimakan bersama-sama. Kemudian Suku Inca di daerah Amerika Selatan, pegunungan Andes, Peru. Pemimpin mereka  disebut Inca dan dipercaya sebagai keturunan dewa matahari. Suku inca hidup dari bercocok tanam. Mereka membangun sistem irigasi yang hebat dan kanal-kanal. Lereng-lereng gunung dibuat sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk bercocok tanam (terasering). Oleh karena langkanya kayu, rumah mereka dibuat dari batu dan jerami. Dan sebagai pemanas, mereka membuat perapian dari kotoran hewan yang telah dikeringkan. Sistem tata kota dan detail arsitekturnya dari suku Inca pun sungguh mengagumkan. Lalu ada Suku Maya yang tinggal di semenanjung Yucatan. Suku Maya memiliki ilmu astronomi yang sangat amat mengagumkan. Pada masanya, mereka memiliki Menara pengamat observatorium Kainuoka yang termasuk dalam peninggalan terbesar dalam sejarah. Belakangan ini arkeolog bahkan beranggapan bahwa astronom bangsa Maya pada zaman purbakala telah membangun jaringan pengamat astronomi pada setiap wilayahnya. Kemudian ada Piramida Maya misalnya, bagaimanakah caranya memotong bebatuan berukuran sangat besar, diangkut ke tempat yang jauh dalam hutan belantara, bebatuan yang beratnya puluhan ton, ditumpuk hingga mencapai tinggi 70 meter, jika tidak ditunjang dengan alat angkut dan peralatan yang memadai, sangat sulit untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Dan suku bangsa yang hidup dalam hutan belantara, mengapa harus mengerahkan upaya dan tenaga sedemikian besar, membangun sebuah jaringan pengamat observatorium? Ditilik dari sejarah, teleskop baru ditemukan pada abad ke-16 oleh Galileo, setelah itu barulah muncul observatorium ukuran besar, dan konsep jaringan pengamat observatorium baru muncul pada zaman modern. Kala itu konsep yang demikian dapatlah dikatakan sangat maju dan canggih.

Penasaran? Masih ada bangsa Sumeria, Mesopotamia, Mesir Kuno, Romawi, Yunani Kuno, Persia, Tiongkok, dan lain-lain. Terlalu panjang jika saya ceritakan satu persatu disini. Kebudayaan besar yang mereka miliki, pada dasarnya dihasilkan dari kemauan mereka yang kuat untuk belajar dari alam, interaksi sosial yang baik antara individu-individu yang cerdas, kesamaan visi dan misi, serta sifat pantang menyerah mereka dalam memahami arti dan tujuan hidup.

Teknologi & Revolusi

Situasi saat ini tentu saja sangat berbeda dengan periode ribuan tahun yang lalu. Kenapa? Kehadiran teknologi di tengah-tengah masyarakat menjadi penyebabnya. Sejak dimulainya revolusi industri di eropa pada akhir abad 18 telah memberikan dampak yang sangat hebat dan menyeluruh ke seluruh penjuru dunia. Bayangkan, tanpa adanya revolusi industri ini, mungkin saat ini kita tidak bisa menikmati manfaat listrik dan alat-alat yang menggunakan listrik dalam kehidupan sehari-hari. Lalu kita tidak akan mengenal berbagai mesin canggih yang mampu menggantikan peran manusia sebagai pekerjanya. Luar biasa.

Akan tetapi, bagaikan dua sisi mata pisau yang berbeda, kehadiran teknologi selain memberi dampak positif juga mampu memberikan dampak negatif terhadap para panggunanya. Teknologi telah memberikan jalan lapang bagi kita untuk tidak lagi mengenal sesama manusia. Mengurangi intensitas manusia untuk berinteraksi langsung satu sama lain, serta menghilangkan warisan budaya dan budi luhur turun-temurun dari generasi ke generasi yang telah ada sebagai warisan nenek moyang kita.

Mengapa? Adanya internet juga bisa menjadi salah satu contoh. Bayangkan, pada era 1980-an, suasana pada sebuah ruang tunggu di tempat umum bisa jadi sangat interaktif. Orang bisa dengan santainya mengobrol dengan orang yang baru dikenalnya yang berada di sampingnya, menanyakan kabarnya, atau membuat aktivitas lainnya yang bermanfaat. Akan tetapi kondisi saat ini di ruang tunggu, hampir semuanya berkutat dengan kesibukannya masing-masing. Saling berkirim pesan pendek melalui ponsel genggamnya, atau mengirimkan broadcast message untuk orang yang sangat jauh jaraknya, ataupun mengakses internet lewat berbagai gadget yang dimilikinya, mendengarkan musik lewat headphone yang besar, tanpa peduli dengan orang di sekitarnya.

Atau adanya kendaraan pribadi yang selalu memadati jalanan setiap harinya. Pada zaman dahulu, ketika orang masih berjalan kaki atau menggunakan sepeda untuk mencapai titik tujuannya, mereka dengan bebas bisa menyapa dengan memberikan senyum ramah orang yang ditemuinya di jalan. Sekarang berbeda, dengan kendaraan pribadi, setiap orang dengan angkuh melibas jalanan tanpa memperdulikan siapa yang ia lewati, merasa paling hebat dan prestisius ketika memiliki kendaraan yang gagah ataupun mewah di hadapan orang-orang. Bahkan terkadang merasa lebih sayang ketika ada bagian dari kendaraannya yang lecet dibandingkan ada anggota keluarganya yang cedera karena kecelakan yang diakibatkan kendaraan pribadinya. Atau mungkin manusia saat ini yang lebih senang mencari data di mesin pencari “Google”, dibandingkan di perpustakaan di antara setumpuk buku-buku yang berderet dan menjemukan. Kita berharap dan mengandaikan Google tahu segalanya dan memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada Google, atas segala “kemudahan” yang telah ia berikan. Maka, jangan heran jika suatu saat ada suatu komunitas yang berTuhan-kan Google, ataupun merasa memiliki Tuhan yang berbasis pada teknologi, karena mereka merasa yakin dan lebih dekat dibandingkan dengan Tuhan yang disebut dalam kitab suci.

Kondisi menimbulkan dampak yang seragam kepada seluruh penggunanya. Kita tidak lagi memiliki kepedulian terhadap orang yang benar-benar dekat dengan kita, mulai melupakan budaya asalnya yang pada dasarnya berasal dari interaksi langsung antar makhluk hidup ataupun alam dan menyeragamkan budaya di seluruh dunia yaitu sebuah ketergantungan akan teknologi. Salah siapa? Salah kita? Salah mereka yang telah menciptakan teknologi yang begitu hebat ini? Atau “mereka yang bersembunyi” dibalik kehebatan ini padahal mereka sebenarnya tertawa atas keberhasilan mereka mengendalikan masyarakat dunia?

Well, kita harus tahu, buka mata, hati dan pikiran anda terhadap segala yang terjadi di dunia ini. Buka wawasan, jangan terjebak dalam idealisme sempit tanpa tahu apa yang sebenarnya apa ideologi anda. Berikap bijaklah akan segala perubahan yang tiap detik terjadi di dunia, karena pada dasarnya manusia memiliki akal untuk memilah dan memilih mana yang baik dan yang buruk.

Selamat datang di era baru dunia yang kapitalis, konsumerisme, modernis dalam ketergantungan akan teknologi dan informasi. Ucapkanlah selamat tinggal pada segala bentuk budi luhur yang seharusnya diwariskan dari nenek moyang kita yang begitu hebat & bersahaja untuk generasi-generasi selanjutnya wahai para generasi baru…

– Sebuah curahan hati yang mengganggu isi otak, Anton Rijal Fikar ~ Bandung, 17 Juli 2011-

Leave a Reply