Orang Kecil? Nanti Dulu!

Miris saya ngeliat pemberitaan di media kalo di bulan Januari, ibukota Jakarta akan ada pajak 10% bagi pengunjung rumah-rumah makan termasuk warung nasi ataupun warteg. Warung tegal yang biasanya menjadi tempat makan murah favorit masyarakat mungkin image “murah”nya perlahan-lahan bergeser ketika wacana tersebut direalisasikan.

Tunggu dulu, kalo gitu dimana donk kita bisa makan murah? buruh, karyawan, supir, tukang ojek, ibu-ibu yg malas masak, mahasiswa (seperti saya) dan kawan-kawan mau pergi kemana? apa kita harus menyumbangkan duit kita untuk restoran-restoran fast-food multinasional yang juga telah dibebani pajak pertambahan nilai sejak lama?

hmm.. jadi berpikir ulang kan?

Lalu orang-orang yang hidup dari usaha buka warteg di Jakarta gimana? Bukannya rata-rata sebagian dari mereka adalah para perantau dari jawa yang mencoba mengadu nasib di jakarta, mencari pekerjaan sebagai apapun, lalu ketika sudah tidak ada lapangan pekerjaan yang tersedia lagi, mereka coba usaha sendiri yang sederhana. Buka warung nasi.

Halal, murah, enak, dan mungkin yang jadi kendala hanya modal awal mereka dalam membuka usaha warung nasi tersebut. Mengontrak ruangan seluas 4×4 meter mungkin atau lebih, mencari peralatan makan dll. Yang jelas semuanya bermula dari niat yang baik, tekad yang kuat dan usaha yang keras, warung-warung itu tidak akan berdiri kalo mereka berpikir nasib mereka di Jakarta sudah berakhir karena tidak ada lagi pekerjaan yang tersedia. Luar biasa! Pernah berpikir tentang mereka sampai ke arah situ?

Lalu kemudian saya membayangkan ilustrasi hasil interogasi aparat dengan perampok setelah 5 bulan pajak ini diberlakukan (saya ambil dari salah satu forum):

A=Aparat
P=Perampok

A: kenapa kamu merampok?
P: cari duit halal susah pak, buat makan anak istri terpaksa rampok…
A: banyak alesan kamu!
P: bener pak, dulu saya buka warteg tapi sejak ada pajak nya langganan sepi…terpaksa rampok dehh…

Harus seperti itu?

Akan jadi seperti itu?

Salah siapa?

Pemerintah?

Rakyat kecil?

atau kita yang memperhatikan tanpa bisa berbuat apa-apa?

Sedih sebenarnya untuk sekedar membayangkan, apalagi jika kasus diatas kemudian benar-benar nyata terjadi.

Kenapa mesti rakyat kecil yang harus menanggung beban-beban negara? okelah, mereka adalah warga negara Indonesia yang memang terkena kewajiban membantu negara dari segi pajak, tapi bukannya mereka buat hidup saja sudah susah?

Kenapa mesti disusahin lagi? Kenapa mesti orang kecil dulu yang harus ditindas?

“Pak, kami cuma orang kecil yang ga tau apa-apa, kami masih untung bisa hidup dari duit-duit halal, tapi kok ya tega mereka-mereka itu. Kalo orang-orang yang makan di warung kami ga ada, kami cari duit darimana lagi pak, selain dari usaha ini?”

Alternatif lain untuk menambah pundi-pundi kas daerah dan pemerintah bukannya banyak, menarik pajak bumi bangunan dari bangunan-bangunan mewah di Jakarta, pajak dari kendaraan impor mewah yang setiap hari melenggang di jalanan ibukota, pembatasan subsidi BBM bagi kendaraan bermotor, mencabut berbagai fasilitas negara yang tidak diperlukan bagi para anggota  Dewan Wakil Rakyat.

kenapa harus rakyat kecil lagi?

Ahh… sudahlah, tiap bicara tentang pajak saya jadi teringat pada si Tambun culas, berwig dan berkacamata itu. Ingat iklan masyarakat “Hari gini belum bayar pajak, apa kata dunia?”, masih pantas?

silakan nilai sendiri.

Buka Mata, Buka Hati, Buka Telinga. Lihatlah apa yang terjadi di sekeliling kita, pekalah pada kehidupan sosial dan bermasyarakatlah. Pengalaman dan cara pandang kita dalam menghadapi segala situasi sosial akan membantu kita dalam mempelajari hidup yang lebih baik.

Tulisan ini hanya saya buat sebagai refleksi dan contoh kecil. Bukan menggurui, bukan mengajari, dan provokasi, hanyalah sebuah opini.

Leave a Reply