Biarkan Bola itu Terus Berputar…

Ya. Biarkan bola itu selalu dan terus berputar. Mungkin inilah judul yang paling tepat untuk menggambarkan betapa euforia dan semangat nasionalisme yang begitu luar biasa benar-benar menyentuh seluruh masyarakat kita. Tidak peduli ia tukang becak, pedagang asongan, karyawan kantoran, pejabat publik, menteri, konglomerat, hingga presiden di negeri ini pun begitu bangga akan merahnya darah kita dan putihnya tulang kita. Bahkan itupun terjadi di balik nasionalisme yang mulai memudar di hati nurani masyarakat  kita karena begitu banyak masalah yang harus dihadapi bangsa ini.

Akan tetapi ajaibnya dalam satu bulan terakhir ini begitu banyak orang tersenyum, sumringah, kebahagiaan begitu terpancar dari wajah mereka. Kebanggaan sebagai orang indonesia yang selama ini sedikit atau bahkan jarang kita temui pada anak-anak muda di negeri ini seolah-olah menjadi familiar. Mereka yang biasanya bangga mengenakan kaos berwarna biru bernama punggung “Totti” dengan nomer 10nya atau mungkin juga dengan kaos berwarna kuning strip hijau bernomor 8 dengan nama “Kaka” seolah sirna, berganti kaos berwarna merah menyala, gagah berani, simbol garuda di dada dengan nama antara “Irfan”, “Gonzales” , maupun “Okto” bangga sekali mereka kenakan. Berkeliling mengitari jalan sambil berteriak “INDONESIA!! INDONESIA!!” dengan lantang tanpa takut, seolah siap untuk mati demi bumi pertiwi sungguh mengharukan dan menyentuh hati nurani saya.

Jujur saja, sejak saya lahir mungkin inilah bentuk nasionalisme yang paling luar biasa yang saya rasakan ketika mendukung timnas indonesia. Bangsa kita pernah punya Ronny Pattinasarany, Ramang, Ricky Yacobi,Iswadi Idris, Rully Nere, Kurniawan DJ. dll. tapi menurut saya kalau mereka harus jujur mungkin mereka harus iri pada timnas saat ini. Bayangkan pada saat jaman mereka dulu, pendukung timnas tidak sebanyak, semerata dan semerah saat ini. Pada saat jaman Kurniawan Dwi Yulianto bermain untuk timnas misalnya, banyak dari suporter Indonesia yang datang ke stadion dengan berbagai atribut klub daerah kebanggaannya masing-masing. Masih ada warna oranye, warna biru, warna hijau yang menghiasi stadion Gelora Senayan, lalu mereka pun hanya meneriakkan nama pemain dari klubnya masing-masing.

Miris sekali.

Tapi situasi yang terjadi dalam sebulan terakhir ini sungguh berkebalikan seratus delapan puluh derajat.

Orang berduyun duyun-datang ke stadion Gelora Bung Karno dengan berkostum merah dan putih, bangga, meneriakkan nama pemain nasional kesayangan mereka, “IRFAANNN” teriak histeris para perempuan itu, “OKTOOO…!!!” ada lagi yang berteriak, kali ini anak kecil berusia 12 tahun itu, padahal menurut saya Okto (Oktovianus Maniani) tidaklah tampan-tampan amat, lalu yang hanya menyaksikannya tidak secara langsung seperti di kafe-kafe ataupun di rumah mereka yang nyaman tetap saja memakai jersey merah berlambang garuda kebanggaan mereka. Padahal jika dipikirkan melalui nalar dan logika “siapa juga yang mau lihat mereka berkostum merah putih dalam rumah? toh hasilnya pun sama saja kan?” Akan tetapi yang mendorong mereka berpakaian seperti itu adalah rasa bangganya kita. Kita pun merasa turut andil menyumbang semangat dan energi positif kepada 11 pemain yang berjuang mati-matian di lapangan.

Ketika jaman dulu orang tua melarang anak-anak mereka datang ke stadion untuk menyaksikan pertandingan sepakbola karena sangat amat tidak aman, beresiko nyawa, sekarang orang tua pun mengajak turut serta anak mereka, sanak saudara, sahabat untuk datang langsung ke stadion. Layaknya mereka hendak pergi ke kebun binatang, menonton bioskop, atau hal apapun yang menyenangkan, menghibur. Dan nyatanya masyarakat sendiri yang berhasil mengubah image stadion indonesia yang angker menjadi stadion yang penuh dengan hiburan  dan euforia luar biasa, meskipun mereka hanya melihat pemain dari jarak pandang 200 meter dan muka pemain hanya tampak seperti titik berwarna coklat, tapi mereka rela untuk mendapatkan tiket tersebut. “Apapun yang terjadi gue harus nonton langsung timnas main!”

Euforia yang luar biasa ini pun menjangkiti berbagai media cetak, elektronik dan televisi. Media pun menganggap timnas adalah objek berita utama yang harus diburu, koran dan majalah menjadikan mereka sebagai headline utama sebagai berita nasional, bahkan ada sebuah stasiun televisi yang begitu getol ataupun berlebihan dalam memberitakan timnas, berita yang sudah lama terus diulas seolah-olah itu sesuatu yang baru, atau mungkin berita yang jika diketik hanya satu paragraf bisa dikembangkan menjadi acara talkshow 120 menit. Luar biasa bukan? Lalu berita dan dukungan tidak terhenti sampai disitu, microblogging Twitter seolah menjadi ajang pelampiasan dukungan buat timnas Indonesia, berkali-kali pula Indonesia menjadi trending topic dunia. Pemain sepakbola internasional pun ikut memberi dukungan buat timnas yang saat awal ajang ini hanya berperingkat 144 dalam daftar FIFA.com dan hanya berjuang di kompetisi level Asia Tenggara. Itu baru Twitter, jejaring sosial Facebook pun terkena dampaknya, bermacam status dan dukungan begitu melimpah buat para pemain tim nasional Indonesia. Tiada henti, terus mengalir dan bernada sama, tentang bangganya mereka terhadap INDONESIA.

Oke, politik yang carut-marut, musibah tiada henti, berbagai kasus nasional telah menguras hati dan pikiran kita, belum lagi masalah pribadi masing-masing personal telah begitu pelik dan pusing untuk dibicarakan dan dipikirkan.  Bangsa ini pun krisis kepercayaan diri akan identitasnya masing-masing sebagai warga negara Indonesia yang harusnya bangga terhadap negeri sendiri, bukannya bangga terhadap kasus video memalukan yang begitu banyak diperbincangkan di luar sana. Sudah saatnya bangsa ini perlu hiburan, perlu hujan, perlu air yang benar-benar menghilangkan dahaga kita akan kebanggaan negeri ini, negeri yang memang harus dibanggakan dengan segala berita positif-positifnya supaya mampu memberikan gengsi berlebih terhadap bangsa-bangsa lain.  NASIONALISME.

Di luar segala  bentuk politisasi orang-orang yang memanfaatkan euforia nasionalisme ini kita harus mengapresiasi luar biasa perjuangan timnas kita saat ini. Mereka yang berhasil mengangkat persaudaraan kita, memberikan kita arti bahwa nasionalisme lebih berarti dibandingkan seonggok benda setinggi 80 cm berwarna emas, dan kalau jatuh patah ataupun bisa hancur. Kebanggaan akan Merah Putih tentu lebih penting dari itu, bangga akan Garuda sebagai simbol negara, bangga sebagai anak Indonesia, bertumpah darah satu, berbangsa satu, berbahasa satu, bangga akan Bhinneka Tunggal Ika, bangga akan pribadi positif kita, bangga akan sportifitas kita dalam dunia olahraga, bangga akan prestasi akademik kita di dunia Internasional. Hei, lihatlah! Dunia memandang kita! Kita bangsa yang besar! dan tentu saja BANGGA akan keINDONESIAAN kita!

Akhir kata, terima kasih Bambang Pamungkas, Firman Utina, Irfan Bachdim, Arif Suyono, Oktovianus Maniani, Markus Haris Maulana dan siapapun yang maaf tidak bisa semuanya saya sebutkan di sini yang telah berjasa membangkitkan nasionalisme dalam setiap darah kita saat ini. Kalian memang belum juara, tapi nasionalisme lebih penting dari sekedar juara. Simpan dendam kalian, teruslah berlari, biarkan bola itu terus berputar, membawa jiwa nasionalisme kita, biarkan Garuda itu terus terbang tinggi membawa serta harapan kita untuk kita realisasikan di kemudian hari, bersama kebanggaan kita, harumnya kita, dan semangat kita. Terima kasih. :)

Leave a Reply