Sampah, Tukang Sampah, dan Sampah Serapah

 

Hmm… tulisan ini diawali dari keprihatinan saya terhadap masalah sampah di Indonesia selama bertahun-tahun. Sampah menumpuk, sampah tidak terorganisir, sampah membusuk, sampah jadi penyakit, sampah menjadi masalah, dan sampah hanya akan tetap menjadi sampah. Tidak berguna, terabaikan, dan biarkan saja musnah.

Benar begitu sampah-sampah itu?

Saya bukannya mau nyombong, tapi setidaknya dalam 10 bulan terakhir saya mulai membiasakan membuang sampah pada tempatnya. Sekecil apapun sampah itu, bungkus permen, sedotan, atau mungkin tusuk gigi. Kenapa saya melakukan itu? jawaban pastinya adalah peduli lingkungan. jelas. yang lain?

Pernah anda membayangkan jadi tukang sampah yang berangkat pagi pulang malam, mencari sampah yang menurut kita tidak berguna, tapi bagi dia adalah nafkah. Tahukah anda jika gaji mereka hanya berkisar tiga puluh ribu rupiah..? itu maksimal. Lalu bagaimana dengan resiko yang ditanggung mereka sebagai tukang sampah, penyakit mungkin? Kebiasaan mereka pulang malam dan selalu menghirup udara malam bisa meningkatkan resiko asma, mereka yang tiap hari mencium bau sampah meskipun sudah ditutup oleh kain baju, masih memungkinkan terserang infeksi saluran pernapasan atas. Masihkah kita memandang mereka dengan segala resiko yang mereka terima?

Bandingkanlah dengan segala kemewahan yang diterima oleh para dewan-dewan rakyat di gedung yang katanya miring itu?

Lalu ada lagi tukang sapu jalan, sebut saja begitu. Pernahkah anda berpikir bahwa dialah orang yang paling berjasa dalam kebersihan di negeri ini? Dialah orang yang merubah cara berpikir saya untuk tidak membuang sampah sembarangan di jalan lagi.

Di jalan pahlawan, Bandung, kurang lebih setahun yang lalu saya pernah melihat seorang bapak-bapak, berseragam kuning sedang menyapu jalan. Mukanya tersenyum seolah ikhlas dengan apa yang ia terima dalam pekerjaannya. Saya pikir dia adalah seorang tukang sapu jalan biasa, petugas dinas PU. Tapi ternyata pikiran saya salah. Berjarak 10 meter dari si tukang sapu jalan itu ada sepeda warna kuning, di jok belakang ada sebuah kotak, ada tulisan menggunakan cat warna merah, saya lupa tulisan persisnya apa. Yang saya paling ingat intinya dia adalah orang yang berniat membuat bandung lebih bersih, dengan caranya sendiri. Ya, caranya sendiri.

Luar biasa hebat orang itu. Penasaranlah saya, bahkan ketika saya bertanya pada teman-teman kampus yang sering lewat jalan pahlawan, orang itu memang selalu ada untuk menyapu jalanan. Dan tidak hanya jalan itu saja, dia selalu keliling kota bandung untuk menyapu jalan. Luar biasa, luar biasa, luar biasa. Bayangkan saja, dia mungkin tidak digaji oleh pemerintah kota maupun dinas kebersihan Bandung, yahh… mungkin saja ada warga yang memberi dia sedikit uang jasa atas apa yang telah ia lakukan, tapi tetap saja semangatnya perlu diacungi jempol!

Saya berpikir mungkin dialah yang pantas jadi walikota Bandung atau mungkin menteri lingkungan hidup republik ini di periode selanjutnya!

Dialah yang merubah cara pandang saya tentang arti hidup dari sampah-sampah ini, bayangkan saja sampah dari rokok. Ada berapa rokok yang dihisap oleh warga kota dalam sehari? kalau itu semua menjadi puntung dan dibuang begitu saja ke jalan umum, berapa banyak puntung yang menumpuk di jalanan? mungkin lebih banyak daripada sampah dedaunan.

Itu contoh sampah 3cm dengan diameter sekitar 0,5cm, lalu bagaimana dengan bungkus permen? bungkus rokok? bungkus plastik? sedotan? batang es krim? tutup botol? Kaca, beling dan sebagainya?

Seberapa besar kontribusi kita pada penumpukan sampah di negeri ini? 1cm ketinggian sampah di jalan pertahun? perbulan? atau mungkin perhari?

Seandainya sampah yang kita hasilkan selalu kita buang di tempat yang sebenarnya, bukanselayaknya, karena kalau selayaknya bisa saja menurut kita itu jalan, sungai dll.

Ketika kita akan membuang sampah, biasakan BERPIKIR dahulu sebelum BERTINDAK. Apakah sampah yang kita buang pantas untuk dibuang begitu saja di tanah? kalaupun itu sudah terjadi dan anda sadar, segera ambil dan buang pada tempatnya. Kalaupun sampah itu belum dibuang, tidak ada tempat sampah untuk menampungnya, bersediakah kita memegang, menampung barang sebentar sampah-sampah itu hingga benar-benar kita temukan tempat sampah yang benar..? :)

Sampah, sesungguhnya telah jadi fenomena yang wajar di penjuru dunia, banyak riset, tesis, dan penelitian yang menulis bagaimana solusi tentang penanganan sampah. Tapi negara kita belum sampai pada level itu, kita masih harus belajar bagaimana membuang sampah yang baik dan benar dulu sesuai tempatnya dulu, baru belajar bagaimana pengolahan sampah itu sendiri.

Semua akan lebih baik dan bijak ketika kita semua benar-benar sadar betapa berartinya sampah, tidak berartinya sampah, bergunanya sampah, tidak bergunanya sampah, dan akhirnya mampu menghargai bahwa sesuatu yang dianggap orang lain tidak penting pasti akan dianggap penting oleh orang yang lainnya.

Selamat membuang sampah dengan baik dan benar! Semoga tulisan ini mampu merubah pola pikir anda tentang sampah :))

nice to share, guys!

Leave a Reply