Sepenggal Kisah Ganesha Tiga Tahun Lalu

 

Sabtu, 10 September 2011,

Ruang TPB, Gedung DKV Itenas.

 

Siang itu, sekitar pukul tiga belas lewat dua puluh menit saya duduk di depan forum. Di hadapan seratusan pasang mata mahasiswa baru angkatan 2011 saya “dipaksa” untuk berbicara, memberikan motivasi dalam kemajuan kuliah (what?), serta strategi agar berhasil melalui semester demi semester dalam bidang studi desain komunikasi visual. Hmm… sebenarnya bukan dipaksa sih, tapi kami (saya dan teman-teman lainnya) sedang diberi kesempatan istimewa oleh salah satu dosen kami, untuk berbagi pengalaman akademis dalam rangka penyambutan mahasiswa baru.

 

Gugup sih tidak, karena memang sudah agak lama saya tidak berbicara di hadapan orang banyak seperti ini, apalagi dalam forum resmi atas nama jurusan. Hanya saja saya masih bingung apa yang harus saya sampaikan kepada mereka, sementara saya pribadi pun merasa tidak terlalu baik dalam soal “kehidupan” di kampus.

 

Saya pandangi satu persatu mata mereka para mahasiswa baru. Terlihat sedikit pancaran kekecewaan dalam mata mereka. Saya sendiri tidak tahu persis kenapa, hanya menebak-nebak saja apa yang sedang mereka pikirkan. Maka, ketika tiba waktunya untuk saya berbicara, saya pun beranjak dari kursi untuk kemudian berdiri, dan bertanya kepada mereka,

 

“Siapa dari kalian yang tujuan masuk ke jurusan Desain ini, untuk menghindari segala sesuatu yang berbau eksak? Matematika, fisika, kimia dan sejenisnya?”

 

Lalu mereka pun mengangkat tangan. Tapi sebagian, tidak semuanya.

 

“Siapa dari kalian yang tujuan masuk ke jurusan DKV di Itenas, karena tidak diterima dalam tes masuk FSRD ITB?”

 

Luar biasa, hampir semua mahasiswa mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dengan penuh semangat. Dan hanya beberapa dari mereka yang tidak menunjukkan antusiasmenya.

 

Bibir saya tersenyum simpul, akan tetapi dalam hati kecil saya sebenarnya menyadari bahwa dulu pun saya sama seperti mereka. Datang dengan membawa optimisme dan segudang harapan untuk menjadi mahasiswa Seni Rupa ITB. Tapi ketika pada akhirnya tidak diterima dalam seleksi masuk, saya pun pulang dengan membawa pesimisme dan berjuta-juta ton kekecewaan untuk kemudian mendaftar jurusan Desain di kampus-kampus lainnya, termasuk Itenas.

 

Karena terkadang memang pada saat-saat tertentu, kerja keras, optimisme, dukungan doa dan semangat belum tentu mampu membawa diri anda pada mimpi yang anda ingin raih.

 

Maka ketika sebelumnya hanya ada kekecewaan yang terpancar dalam tatapan mata mereka, saya anggap semuanya wajar. Pertanyaan kecil saya pun terjawab.

 

Setelah jawaban itu, pikiran saya pun dibiarkan melayang sejenak. Sekitar tiga tahun yang lalu ketika tiba di kota Bandung tujuan saya pun hanya satu, “menjadi mahasiswa Seni Rupa dan Desain ITB, tidak ada yang lain”. Tampak terlampau over confidence nampaknya. Lalu, mengapa harus jurusan Desain? Sederhana saja, dari semenjak saya lahir dan mengenal alat tulis menggambar adalah kegiatan favorit saya. Apapun saya gambar, kertas, dinding, lemari, lalu saya menggambar bentuk rumah eyang saya, membuat ilustrasi dari novel yang baru dibaca, membuat komik, hingga mendesain berbagai gambar mobil, pesawat, dan kapal laut. Selain itu juga mainan-mainan di rumah tak luput dari “kreativitas” saya, dipreteli, pasang lagi, dicat ulang, hingga banyak yang hancur berantakan tak berbentuk. Ketika tembok rumah baru dicat, saya adalah orang yang paling semangat untuk mencobanya. Dan ketika gagal, saya pun dimarahi oleh orang tua, kemudian diakhiri dengan menangis. 🙂

 

Atas dasar “kreativitas” itulah selepas SMA, ketika bingung harus menentukan kuliah di mana, kakak saya pun datang dengan membawakan informasi tentang Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung. Kenapa harus ITB? Saya pun tidak tahu mengapa. Mungkin karena minimnya informasi yang saya dapatkan, maka saya hanya mengetahui tentang ITB tanpa mengenal jelas seluk beluknya. Lagipula pandangan saya saat itu, kuliah di ITB nampaknya akan memberikan prestise berlebih dalam hidup saya.

 

Singkat cerita, saya pun mendaftar dan mengikuti tes seleksi masuk ITB setelah sebelumnya selama dua minggu mengikuti bimbingan di Villa Merah.

 

Hingga pada akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Malam itu saya sedang berada di daerah Balubur, bawah fly over ketika handphone pun kemudian berbunyi. Oh, sebuah pesan singkat dari teman satu kosan saya yang juga mendaftar di FSRD ITB.

 

“Udah liat di websitenya belum Ton pengumumannya? Aku keterima lah, Alhamdulillah. Kamu gimana? Mau diliatin? Sms aja nomer pendaftarannya. Ntar diliatin deh…”

 

Kontan saya pun senang, selain teman yang secara pribadi dekat bisa diterima menjadi mahasiswa ITB, apalagi saya? Saya pun membawa optimisme itu dengan tanpa membalas, dan segera mencari Warnet terdekat.

 

Akhirnya persis di perempatan Balubur saya menemukan Warnet. Ketika mulai mencari dengan memasukkan nomor pendaftaran saya, akhirnya fakta itupun terungkap. “Saya bukanlah mahasiswa Seni Rupa ITB”. Kemudian saya refresh lagi, berharap ada kesalahan pada website tersebut. Namun hasilnya tetap sama, nihil. Dengan hanya membayar dua ribu rupiah dan muka tertunduk lesu saya pun pulang ke kamar kosan saya di daerah Cipunagara.

 

Dalam perjalanan pulang, terbersit bayangan-bayangan kotor tentang bagaimana jika teman kosan saya bertanya tentang hasil seleksi ini? Mau ditaruh di mana muka saya? Lalu bagaimana jika orang tua saya yang bertanya? Keluarga saya? Selama ini saya hidup di Bandung untuk apa kalau bukan untuk ini? Sungguh segala perjuangan, harapan, dan mimpi-mimpi saya seolah tidak ada lagi. Malam itupun saya merasa sebagai orang gagal yang tidak berguna sama sekali. Hancur berantakan, dan tidak ada artinya hidup.

 

Secara berturut-turut malam itu orang tua saya menelpon, menanyakan kabar, memberi nasehat. Lalu kemudian kakak saya, masih sama. Kemudian teman kosan saya, lalu menasehati. Semakin mereka memberikan sisi bijak mereka terhadap saya, semakin saya merasa hancur pula di hadapan mereka. Hingga pada hari-hari berikutnya pun masih sama. Saya masih terbaring dengan tatapan kosong ke langit-langit, mencari-cari kesalahan, diakhiri dengan memaki-maki diri saya sendiri. Keluarga saya pun sempat khawatir bercampur dengan kecewa melihat kondisi saya yang seperti itu.

 

Hingga pada suatu hari kakak saya menawarkan sebuah solusi untuk kuliah di perguruan tinggi swasta selama setahun, lalu tahun depannya saya bisa mendapat kesempatan untuk mendaftar lagi, mengikuti seleksi, hingga menjadi mahasiswa ITB. Ya, mahasiswa ITB. Saya tidak tahu kenapa dulu begitu berhasratnya untuk sekedar mendapatkan prestise tersebut, mungkin karena didorong semangat untuk mengikuti jejak dua kakak saya yang kuliah di perguruan tinggi ternama, maka sudah sepantasnya saya pun harus seperti itu. Sungguh pemikiran yang absurd.

 

Dan saya pun diterima di Itenas, jurusan Desain Komunikasi Visual. Sesuai dengan jurusan yang saya harapkan. Meskipun pada awalnya sedikit kecewa karena ini bukan kampus impian saya, tapi saya tetap menyimpan mimpi-mimpi saya. Mimpi-mimpi yang kemudian saya namakan dengan “Sebuah dendam yang positif”.

 

Kenapa saya namakan seperti itu? Karena saya punya mimpi, mimpi yang berisi harapan untuk memberikan segala yang terbaik yang saya punya hingga saya bisa berguna untuk kebaikan semua orang di sekitar saya. Entah itu, keluarga, teman, sahabat, bahkan untuk orang-orang yang tidak saya kenal sekalipun. Ya, saya hanya ingin jadi orang yang berguna, bukan sukses. Sukses itu bukan tujuan akhir dalam hidup saya, karena sukses adalah bagian dari proses. Suatu saat mungkin setelah orang sukses karena terbuai oleh apresiasi, pujian dan rayuan bisa saja orang tersebut gagal lagi, lalu kemudian bangkit lagi, begitu seterusnya. Berbeda dengan jadi orang yang berguna. Jika kamu sukses, itu untuk diri kamu sendiri, tapi ketika kamu jadi orang yang berguna, tidak peduli kamu sukses atau gagal, kamu telah berbuat sesuatu untuk orang lain, bukan hanya diri sendiri.

 

Hingga pada akhirnya saya berdiri di sini, di hadapan mereka para mahasiswa baru, setelah tiga tahun melewati masa-masa yang indah. Dan tentunya tanpa terbersit sedikitpun niatan untuk kembali lagi ke ITB, mendaftar menjadi mahasiswa seni rupa, atau apapun itu. Saya memperoleh banyak pengalaman, teman untuk berbagi, memperoleh kesempatan beasiswa dari Djarum, belajar untuk lebih rendah hati dalam memandang hidup dan lain-lain. Saya memang belum menjadi apa-apa, tapi ketika mungkin saya bisa menjadi lebih baik dibandingkan (mungkin) nasib saya ketika berkuliah di ITB, itu hanyalah bonus. Tak lebih dari itu. Toh saya hanya seorang manusia yang suatu saat akan mati, tak ada yang bisa saya bawa kecuali amal.

 

Maka saya pun berkesimpulan, manusia telah memiliki jalan yang telah digariskan oleh Sang Maha Petunjuk, tergantung manusia tersebut mau tetap jalan, berhenti, atau mundur untuk memilih jalan lain. Hei kawan, tidak selamanya gagal itu buruk, sukses itu baik, selama kamu masih punya mimpi untuk diraih kejarlah terus mimpi itu. Karena pada dasarnya orang yang paling miskin di dunia adalah mereka yang tidak mempunyai mimpi sama sekali. Dan orang yang paling kaya di dunia adalah mereka yang punya banyak mimpi, lalu berusaha mengejarnya untuk kemudian diwujudkan dalam kehidupan nyata.

 

Memang, terkadang esensi tentang kebaikan hidup terlalu sederhana untuk dipahami, tapi sangat rumit untuk diaplikasikan dalam kehidupan diri kita sehari-hari.

 

“Siapa di antara kalian yang niat ngedaftar di ITB setelah setahun kuliah di Itenas?”

 

Pertanyaan terakhir saya, dan semua pun mengangkat tangan. Saya kembali tersenyum.

Jalani saja dulu kawan. 🙂

Leave a Reply